Musim Buah Berganti Asap

Pontianak kering. Sudah hampir 1 bulan, kota khatulistiwa ini tidak diguyur hujan. Akibatnya, asap meraja rela. 

Kantor – Jarak pandang saat berkendara di jalan pukul 23.00 WIB tidak lebih dari 100 meter. Pernafasan pun ikut terganggu. Bau asap sangat menyesakkan dada. Mereka yang sedang nongkrong di warung kopi pun rela mengenakan masker demi menghalau asap menyusup ke hidung. Sungguh bau. Mata pun perih akibat asap.

“Satu minggu nggak hujan saja, asapnya sudah mulai terasa,” kata seorang teman yang saya temui tadi malam. Keberadaan asap ini mulai saya sadari di hari pertama Tahun Baru Imlek, tepatnya tanggal 31 Januari lalu. Saat membuka pintu rumah sekitar pukul 6 pagi, asap tebal seolah berdiri di depan pintu. Tebal. Saking tebalnya asap, berdiam di dalam ruangan pun, mata akan berair karena asap.

Menjelang siang, atau sekitar pukul 10 pagi, asap mulai menghilang, atau mungkin tidak terlihat karena terang matahari. Baru muncul lagi saat matahari mulai tergantikan bulan, sekitar pukul 7 malam. Semakin malam, semakin tebal, seperti yang saya jumpai tadi malam. Benda apapun yang ditaruh di depan rumah, mulai dari sendal, sepatu, motor, mobil, kotor lebih cepat, terkena debu.

Masih membekas dengan jelas di benak saya, ‘musim asap’ terjadi setiap tahun, sejak saya kecil. Ada teman yang pernah bertanya, “Mengapa tiap tahun ada asap? Mengapa tidak pernah diatasi?”. Saya tidak tahu jawabannya. Ada yang bilang, asap yang muncul adalah ‘hadiah’ pembakaran hutan yang sengaja dilakukan oleh oknum, setiap musim kemarau, untuk membuka lahan baru. Musim kemarau jadi musim berbahagia bagi oknum, jadi malapetaka untuk warga. Lalu, pertanyaan “Mengapa tidak pernah diatasi?”, saya pun belum menemukan jawaban ini.

Tidak banyak yang bisa warga lakukan selama musim asap. Masker boleh jadi alternatif termudah. Untuk melindungi paru-paru dari asap, kurangi bepergian di malam hari. Kalaupun haru pergi, kenakan masker. Minimal, lebih sedikit asap yang terhirup. Sembari itu, bolehlah kita berdoa kepada penguasa hujan untuk menurunkan hujan barang satu dua hari agar warga bisa bernafas sedikit lega. Atau boleh juga berharap agar oknum kecapekan membakar hutan.

Pontianak, 4 Februari 2014, pukul 13.18 WIB. 

Advertisements

2 thoughts on “Musim Buah Berganti Asap

  1. Pingback: Asap Lagi | kulikeliketik
  2. Pingback: Asap 2015. Ayo Pakai Masker! | kulikeliketik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s