Musim Buah Telah Tiba

PONTIANAK – “Kalau negara lain punya 4 musim, Pontianak punya lebih dari itu. Kita punya musim hujan, musim kemarau, musim rambutan, musim langsat, musim durian,..” begitu bercandaan yang sering saya dengar dari guru-guru saya semasa duduk di bangku Sekolah Dasar, beberapa tahun lalu. 

Untuk beberapa alasan, buah di Pontianak memang terkenal. Maaf. Bukan dari Pontianak. Tapi dari daerah di sekitar kota Pontianak, seperti Punggur, Desa Kapur, Kumpai, dan masih banyak lagi. Masing-masing daerah terkenal dengan buah andalannya. Misalnya, Punggur dengan buah langsat, Batang Tarang dengan durian, dan lain-lain.

Khusus kali ini, saya ingin bercerita sedikit tentang salah satu buah kesukaan saya. Enak, memabukkan, dan bau. Ya, betul. Durian.

Sepanjang jalan Teuku Umar, salah satu kawasan kuliner di sini, durian tumpah ruah di mana-mana. Pemandangan ini sudah terjadi sejak dua bulan lalu. Kebetulan tempat kursus saya ada di jalan yang sama. Jadi, pemandangan buah durian di kiri jalan sudah saya jumpai hampir setiap hari. Umumnya, para pendagang mulai menata lapak dan buahnya, pukul 14.00 WIB.

Sejak pertengahan bulan November lalu, jumlah penjual dan penikmat durian meningkat 2 kali lipat. Tidak kurang dari 50 meter, muncul penjaja durian dengan harga yang beraneka ragam. Mulai dari 10 ribu, 25 ribu, hingga 50 ribu rupiah. Sebagai penjual yang cerdas, mereka pun menancapkan harga termurah, 10 ribu rupiah. Harga yang ditulis di karton bekas air mineral dengan bentuk ala kadarnya itu diletakkan di kumpulan durian berukuran besar dan cantik. Tapi, jangan terkecoh. Durian cantik itu tentu tidak berharga 10 ribu. Coba tolehkan kepala tepat di sebelah kiri kelompok durian besar. Di sanalah durian seharga 10 ribu rupiah dijual. Buah yang kecil, sedikit busuk, dengan bentuk yang semrawut. 

Saya sendiri sempat tertipu. Durian ‘seharga’ 10 ribu ternyata baru bisa didapat dengan harga 25 ribu rupiah. Beruntung, rasanya cukup enak. Dagingnya tebal, lembut, kuning, dengan sedikit campuran pahit dan manis. Kesukaan saya.

Seminggu terakhir ini, buah langsat dan rambutan juga mulai bermunculan. Untuk mendapatkan buah langsat dan rambutan, silakan mampir ke Jalan Jenderal Urip. Pemandangan di kawasan ini tidak jauh berbeda dengan Teuku Umuar. Hanya saja, kalau di Teuku Umar kita akan menjumpai durian, di Jenderal Urip, rambutan dan langsatlah yang berjaya.

Beberapa kenalan saya yang lebih dewasa mengatakan berbagi resep memilih buah di musim buah. Menurutnya, buah yang masih di fase awal, atau baru dipanen, belum senikmat buah di fase tengah. Karena itu, belilah buah saat sudah memasuki pertengahan bulan panen. Begitu katanya. Saya sendiri kurang paham buah apa panen di bulan apa. Namun, jika pengamatan saya benar, buah saat ini durian sedang berada di fase pertengahan. Mungkin karena itu, Pontianak betul-betul sedang banjir durian.

Mudah-mudahan sampai Tahun Baru Imlek, bulan depan (akhir bulan Januari), Pontianak masih kebanjiran buah-buahan enak. Jadi, warga asli yang hendak pulang kampung atau pendatang yang ingin mengintip suasana Imlek di kota ‘Pecinan’ ini bisa mendapatkan hiburan untuk mata, dan perut dalam waktu bersamaan.

Advertisements