Mitos Mitos Cina

Kehidupan masyarakat Tionghua atau keturunan tidak terlepas dari mitos. Berbagai kepercayaan terus diyakini, dengan harapan dapat hidup bahagia, sekaligus menghindari bencana. 

shenhua_mythology-chinese-character

PURNAMA – Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, mitos berarti :

Cerita suatu bangsa tentang dewa dan pahlawan zaman dahulu, mengandung penafsiran tentang asal usul semesta alam, manusia, dan bangsa, mengandung arti mendalam yang diungkapkan dengan cara gaib.

Sekilas, definisi di atas cukup membuat pusing kepala. Tapi, ijinkan saya mencoba menggambarkan bagaimana warga Tionghua masih menjalani kehidupannya sesuai dengan kepercayaan tentang dewa seperti yang dijelaskan KBBI.

Tiga bulan ini, saya tergabung dengan salah satu tempat kursus Mandarin yang berlokasi di Pontianak. Sebagai salah satu tempat belajar, yang mengatasnamakan proses belajar mengajarnya sebagai “diklat”, bukan kursus, tempat ini terbilang serius dalam mendidik para siswa. Salah satunya dengan mendatangkan guru yang telah mengenyam pendidikan di Tiongkok, alias Republik Rakyat Cina. serta beberapa guru asli dari RRC.

Mendapatkan jam belajar dengan para guru ini memberikan banyak pengetahuan baru bagi saya. Pada suatu hari, guru asal Bengkayang (salah satu daerah di Kalimantan Barat), yang sempat mengenyam pendidikan di Quangzhou, selama 5 tahun, berbagi cerita tentang mitos.

Jangan pernah memberikan hadiah sepatu untuk ulang tahun,” demikian ungkap sang guru, hari itu. Pernyataan ini disampaikan oleh laoshi (bahasa Mandarin untuk guru), saat menerangkan pelajaran tentang budaya memberikan kado ulang tahun di negeri Tirai Bambu.

Laoshi menjelaskan, warga Cina percaya bahwa sepatu merupakan simbol untuk ‘mengantar’ seseorang. Konsep ini mengacu pada fungsi sepatu sebagai alas kaki, (yang otomatis berkaitan dengan peristiwa berjalan-jalan). Sesuai fungsi tersebut, maka memberikan sepatu kepada seseorang dipercaya sebagai simbol untuk mengantarkan orang tersebut ke suatu tempat. Tempat di sini dapat dimaknakan sebagai tempat yang bahagia, sekaligus ke tempat yang tidak bahagia, alias maut. TIdak lucu ‘kan memberikan hadiah kepada seseorang yang kelak digunakan sebagai alat untuk ‘berjalan’ ke arah maut?

Di samping alasan itu, ada lagi alasan lain (yang menurut saya agak aneh). Larangan memberikan sepatu, diterangkan laoshi, berlaku karena sepatu akan digunakan oleh penerimanya dengan diinjak. “Bayangkan, hadiah kita akan diinjak-injak oleh penerimanya. Tidakkah itu percuma?“, begitu kira-kira penjelasan laoshi tentang penjelasan tentang mitos yang satu ini. Tapi, saya tetap menganggap yang satu ini aneh. Namanya saja sepatu, ya jelas diinjak. Masa’ dijinjing? Kalau tidak boleh diinjak, bagaimana dengan keberadaan sepatu berhaga puluhan juta itu yang pastinya akan diinjak? Yah, untuk dua alasan itulah, jelas laoshi, sepatu dicoret dari daftar hadiah ulang tahun untuk seseorang.

Berikutnya, jam tangan. Tidak berbeda jauh dengan sepatu, jam tangan dimaknai sebagai waktu menuju maut, atau kematian. Dengan menghadiahkan jam tangan, maka secara tidak langsung, kita mengingatkan kepada yang menerima hadiah agar senantiasa mengingat keberadaan maut. Seolah-olah kita berkata “wahai, kawan. Waktumu sudah dekat. Berbuat baiklah sebelum waktumu habis.” Begitu kira-kira. Atas dasar ini, jam tangan pun masuk ke keranjang daftar hitam kado ulang tahun.

Oleh sebab itu, tambah Laoshi, keberadaan mitos itu membuat dirinya dan kawan-kawan harus cermat dalam memberi hadiah ulang tahun. “Jangan sekali-kali memberikan hadiah itu ke warga asli Cina. Meskipun kalau dikasih ke saya sih, saya terima-terima saja. Tapi kalau untuk mereka, jangan coba-coba kalau kalau tidak ingin mereka tersinggung,” ujarnya.

Dua contoh di atas baru sedikit contoh dari sekian banyak dari mitos tentang hadiah ulang tahun yang masih dianut oleh masyarakat Cina. Dan lihat, ini baru urusan hadiah ulang tahun. Masih buanyak lagi mitos lain yang terus dipercaya turun temurun oleh warga Tionghua. Tidak hanya untuk warga yang masih tinggal di RRC saja, warga kota saya pun banyak yang masih meyakini hal serupa.

Beruntung, saya dan keluarga saya, tidak terlalu mengacuhkan lagi mitos-mitos semacam itu. Terkecuali, untuk pemilihan tanggal pindah rumah, pindah kantor, menikah, dan sejenisnya, yang masih dilakukan berdasarkan hitungan penanggalan kalender Cina. (seperti Primbon, mungkin), tidak terlalu banyak mitos yang harus dipatuhi oleh saya maupun keluarga. Kami mungkin lebih percaya pada waktu, daripada mitos. Artinya, kalau sudah waktunya, mau ngasih apapun yah pasti akan terjadi saja, baik yang diinginkan maupun tidak.

Lalu, kamu sendiri kira-kira percaya nggak dengan mitos-mitos tadi?

Advertisements