Pontianak ‘Imlek’ Festival

Bunyi petasan memekakkan telinga hampir setiap jam, tiap menit, tanpa henti. Semakin menggila mendekati pergantian hari. Bukan lagi bergantian tiap menit, tapi bersamaan setiap detik.

Rumah – Kalau Jakarta punya Jakarta Festival setiap malam tahun baru satu tahun terakhir, maka kalau boleh saya samakan sedikit, Pontianak juga punya Pontianak Festival. Kemeriahan ini berlangsung di malam tahun baru Imlek. Tepatnya, malam ini, 30 Januari 2014.

Pukul 6 sore, warga telah memadati Jalan Gajahmada dan Jalan Tanjungpura (jalan utama yang hampir selalu saya sebut dalam tulisan di halaman ini). Sebagian berkumpul bersama teman, sebagian lagi ‘menyiapkan’ tempat untuk gerombolan temannya yang akan bergabung di malam tahun baru.

Pukul 8 malam, kiri kanan jalan mulai dipadati kendaraan roda dua. Kendaraan roda empat yang ingin melalui jalan ini pun harus mulai bersusah payah untuk menyelip. Letupan petasan dan percikan kembang api bisa terlihat dimanapun kita berada. Salah satu sumbernya, dari kedua jalan tersebut.

Pukul 10 malam, kemacetan semakin menggila. Jalan Ahmad Yani, sekitar 1 km dari jalan Tanjung Pura, juga tampak padat. Tumpahan kendaraan di Jalan Gajahmada-Tanjungpura menyebar ke jalan di sekelilingnya. Atraksi kembang api semakin menjadi-jadi. Warga pun semakin memadati. Jalan kaki pun harus berhati-hati. Waspada menabrak kendaraan atau menyenggol orang.

Kebetulan, saya berdiri tepat di barisan tengah Jalan Gajahmada. Dari posisi ini, kembang api dan petasan seolah sahut menyahut dari kiri dan kanan jalan. Dari kejauhan, sumber kembang api sepertinya datang dari satu titik. Titik di depan tempat saya berdiri juga jadi lokasi ‘pembakaran’ kembang api. Empat pria 40-an yang membakar satu kardus panjang tampak bahagia saat menyulut api. Kelihatannya, mereka sedang mengaktualisasikan tulisan merah yang tertera di kardus kembang api yang mereka bakar, ‘Happiness’.

Puncak adu kembang api terjadi 5 menit sebelum dan sesudah pergantian hari, atau pukul 12. Stok kembang api andalan sepertinya sengaja disisakan untuk dimainkan pada 10 menit pamungkas tersebut. Ada yang melejit ke atas satu persatu seperti mikroorganisme yang Anda lihat dari mikroskop, ada yang melambung langsung ke atas dan berpendar menjadi ratusan percikan api, ada pula yang harus berputar putar dahulu sebelum lenyap ditelan langit. Anehnya, semakin kembang api ramai dimainkan, semakin banyak warga yang mendekati lokasi kembang api.

Yang paling tersangkut di pikiran saya adalah puluhan lampion yang dilepaskan ke langit. Lampion yang melayang itu mengingatkan saya pada festival lampion Waisak yang menjadi ikon perayaan hari besar umat Buddha di Borobudur. Ternyata, ‘tren’ lampion ini sudah berlangsung sejak 3 tahun lalu.

Entah apa makna pelepasan lampion oleh mereka yang membakar. Hanya saja, salah satu teman saya mencantumkan judul yang cukup menggelitik saat mengunggah fotonya bersama lampion. ‘Lampion Jomblo’. Mengusir jomblo bersama lampion? Mungkin, puluhan lampion lain juga diamini empunya sebagai ‘Lampion Miskin’, ‘Lampion Jelek’, atau ‘Lampion Gemuk’.

Melihat kemeriahan kota malam ini, Jakarta Festival menjadi satu-satunya hal di pikiran saya. Mungkin pemerintah daerah sudah mulai boleh memikirkan rencana untuk menahbiskan malam tahun baru Cina sebagai sebuah pagelaran ‘ serius’ sebagai program wisata Pontianak. Apalagi kata salah satu kerabat, hari raya ini merupakan yang paling ramai, bahkan dibandingkan dengan malam tahun baru. Asalkan dengan satu catatan, Pemda Pontianak tentu harus bisa memastikan sampah malam ini sudah tidak lagi mengotori jalanan sebelum pukul 6 pagi, seperti yang dilakukan Jakarta. Kalau Jakarta bisa, Pontianak pasti lebih bisa.

image

Selamat tahun baru Imlek untuk yang merayakan. Semoga tahun Kuda Tanah ini menjadi tahun yang berbahagia dan berejeki.

Pontianak, 31 Januari 2014, pukul 01.21 WIB