Halo Dari Banjarmasin

Setelah tulisan terakhir dipublikasikan September 2015, saya kembali lagi. Kali ini dengan kota yang baru, Banjarmasin. Mudah-mudahan bisa semakin rajin menulis dan bercerita lagi lepas absen 4 tahun.

Banjarmasin, ibu kota Kalimantan Selatan, barangkali tidak menjadi destinasi wisata bagi pelancong yang gemar keliling Indonesia. Alam-nya tidak menjanjikan panorama yang instagram-able, infrastruktur yang tersedia juga layaknya kota di Kalimantan kebanyakan (bahkan Pontianak sepertinya sedikit lebih maju dari kota ini). Kalaupun ada yang sedap untuk dinikmati, mungkin kuliner. Banyak hidangan lezat yang bisa saya bagikan di kolom berikutnya.

Hidup di kota dengan populasi sekitar 750 ribu jiwa ini, warga tidak mendapati banyak pilihan untuk menghabiskan akhir pekan. Taman hiburan terbatas, mungkin juga kurang menjadi pilihan karena cuaca rata-rata mencapai 32 derajat setiap harinya. Pusat perbelanjaan modern hanya ada di dua lokasi. Satu di pusat kota. Satu mendekati kota Martapura, atau sekitar 35 km dari pusat kota Banjarmasin. Keduanya ramai pengunjung, khususnya Jumat hingga Minggu.

Hari ini, saya mengunjungi pusat perbelanjaan di Martapura, Q Mall. Seperti kunjungan sebelumnya, tempat ini pun tampak ramai.

Selain tempat makan, toko pakaian, dan supermarket, tempat favorit di bangunan berlantai tiga ini adalah Timezone yang berlokasi di lantai tertinggi.

Banjarmasin-Timezone-1

Mengunjungi tempat ini mengingatkan saya pada masa kecil. Waktu dulu, tiap hari Minggu, saya akan mendatangi satu-satunya tempat serupa bernama Amazon pada masa itu di Pontianak untuk bermain basket, Dance Dance Revolution, atau permainan mudah lainnya demi mendapatkan potongan kupon untuk ditukarkan menjadi ikat rambut.

Ternyata, sama seperti yang saya lihat hari ini, anak-anak masih menemukan keriaannya bermain di tempat ini. Melawan musuh, mengendalikan motor, menaiki kuda, atau memukul buaya yang keluar tanpa terduga di papan permainan, masih menghadirkan tawa dan ketegangan.

Banjarmasin-Timezone-5

Banjarmasin-Timezone-6

Banjarmasin-Timezone-13

Tak hanya anak-anak, orang tua pun larut dalam kegembiraan bermain, bersama anak-anaknya. Pemandangan lain yang melegakan di era dimana semua mudah terbuai dengan telepon genggam setiap menitnya.

Banjarmasin-Timezone-2

Banjarmasin-Timezone-8

Banjarmasin-Timezone-7

Di tempat ini, mesin yang paling sering diincar adalah mesin untuk mengambil boneka atau hadiah lainnya. Permainan yang tidak menjadi pilihan saya karena akan banyak menghabiskan uang, dengan kemungkinan menang yang sangat kecil.

Dan, sejak pertama melihat mesin ini puluhan tahun lalu, saya baru tahu hari ini, bahwa setiap kali mesin tidak dimainkan, petugas akan datang untuk menata kembali boneka-boneka, atau menambahkan yang baru jika ada yang berhasil diambil oleh pengunjung sebelumnya.

Banjarmasin-Timezone-9Banjarmasin-Timezone-10Banjarmasin-Timezone-11Banjarmasin-Timezone-12

Kalau sudah selesai main, apa lagi yang dinanti kalau bukan kupon permainan. Kira-kira, akan ditukarkan apa kupon ini?

Banjarmasin-Timezone-4

Lokasi foto:

Timezone, Q Mall Banjarbaru
Banjar Baru Utara, Kota Banjar Baru
Kalimantan Selatan 70714
https://goo.gl/maps/uTp56tkowTJ2

 

Asap 2015. Ayo Pakai Masker!

Sudah banyak dengar berita tentang asap, dong? Di Riau, Palembang, Jambi, Palangkaraya, termasuk Pontianak. Sudah dengar tuntutan dari berbagai lembaga maupun perseorangan juga, kan? 

Tanpa disengaja, isu asap ternyata menjadi isu yang paling sering ditulis di blog ini.  Pertama ini, lalu ini. Keduanya ditulis dua tahun lalu. Isinya, sama: keluhan tentang asap, dan kebingungan mengapa momen itu terus berulang. Dua tahun kemudian, kalau saya menulis postingan ini hari ini, pasti isinya juga kurang lebih sama.

Cuman, ada yang sedikit berbeda kali ini. Temen-temen saya sedang demen-demennya bikin video berjenis vlog.

vlog
vläɡ/
noun
  1. a blog in which the postings are primarily in video form.
    “you can add travel vlogs to the growing list of travel-related material popping up on the Web”
    sumber : Google

Karena sini anaknya kadang mudah goyah, jadi hari ini saya ikut bikin vlog. Temanya, tentang asap.

Awalnya hanya ingin merekam tentang ASAP dan bagaimana penampakannya. Banyak sih beritanya di televisi, tapi kalau bisa ditangkap dengan ‘mata’ sendiri, rasanya kok bakalan beda ‘rasanya’ (tentu jangan dibandingkan teknis gambarnya). Setelah muter-muter jalan satu dua jam, ternyata saya menemukan fakta lain atas kejadian asap di Pontianak ini.

Banyak yang masih tidak mengenakan masker saat berada di jalan. 

Kalau didata, dari 10 pengendara yang lewat, hanya 2 atau 3 saja yang mengenakan masker.

Padahal…

Harga masker hanya 2.000 rupiah. Kalaulah tidak ingin boros, bisa beli 2 masker berbahan kain seharga @10 ribu rupiah. Penggunaannya bisa ganti-gantian. Kalau saya sih, sering mengalasi masker dengan tisu, jadi tinggal tisu-nya aja yang diganti. Pakai masker juga tidak sulit. Tinggal dikaitkan di kuping, atau diikat di belakang kepala.

Lalu, kenapa masih nggak mau pakai masker? *gemes

Begini.

Seperti yang sudah disampaikan di atas tadi, sudah banyak lembaga atau komunitas yang menuntut pemerintah untuk menangkap pengusaha yang bertanggung jawab atas pembakaran hutan. Pemerintah juga bilang akan segera menindak oknum-oknum tidak bertanggungjawab.

Jadi, sembari menunggu mereka-mereka yang punya kuasa itu bertindak, dan berdoa agar yang bertanggungjawab segera ditangkap, kita yang masyarakat biasa harus tetap menjaga kesehatan diri sendiri. Jangan sampai karena cuek-cuek aja sama asap, jadi terserang batuk, sesak nafas, atau penyakit-penyakit lain, lalu harus ijin kerja, bolos sekolah, absen jaga toko. Toh, seminim-minimnya kekuatan masker untuk menghalang si asap, masih lebih baik memakai masker daripada ‘telanjang hidung’.

Ayo dong, pake maskernya.

Put your mask on. Save yourself. 

*Vlog perdana. Diambil dan disunting dengan iPhone 4S. 

Olahraga dan Sampah

Maaf, judulnya agak kotor. Memang inti pembicaraan hari ini adalah tentang sampah.

Bulan April tahun lalu, saya membuat tulisan tentang aktifitas olahraga pagi yang dilakukan warga Pontianak. Lokasinya di Stadion Sultan Syarif Abdurrahman.

Minggu lalu, saya kembali mengunjungi tempat ini.

Maksud hati ingin berolahraga dan menyehatkan tubuh. Tapi, target utama bergeser. Pemandangan GOR hari ini lebih menyenangkan untuk dipotret. Walaupun, sama sekali tidak menarik secara estetika.

Foto dari enam titik berbeda (dari 10 atau lebih lokasi yang dijadikan TPS dadakan).

Lalu, loket pembelian tiket yang sembilan bulan lalu tampak begini…

20140429_070303_resized_1Minggu lalu tampak seperti ini…

image8

Lebih baik? Tidak. Lebih jelek? Mungkin, iya.

Cerita saya belum habis. Selain sampah kotoran, ada juga makhluk kotor yang berkeliaran di sini. Pelecehan, kalau boleh saya sebutkan. Apa yang terjadi, bisa dilihat dari gambar di bawah ini.

FBMelihat lokasi olahraga dengan kondisi seperti ini, perlu rasanya memberikan apresiasi pada warga Pontianak yang cukup peduli dengan kesehatan. Meskipun harus berlari di atas jalanan yang berlubang, atau menutup hidung manakala aroma busuk lewat terbawa angin, sembari was-was dengan tindakan tak jahat oleh orang-orang kotor, jumlah warga yang berolahraga sepertinya tidak banyak berkurang dibandingkan sembilan bulan lalu.

Tapi, apresiasi tentu tidak ada artinya kalau diberikan lewat tulisan protes oleh saya. Pemerintah yang perlu mengapresiasi dan menghargai niat warga untuk hidup sehat. Mungkin salah satunya dengan memperbanyak tempat sampah, atau membuat papan pengumuman bahwa tepat di sebelah stadion yang megah ini, ada tempat pembuangan sampah resmi milik pemerintah.

Kalau tulisan sebelumnya mempromosikan lokasi ini sebagai jawaban “Olahraga di Mana?“, tulisan hari ini mungkin boleh diberi judul, “Kapan GOR Bersih?”.

image10

“PESONA KHATULISTIWA DI INDONESIA”

KabariNews – Tidak hanya kekayaan alam yang menjadi pesona Indonesia. Fenomena di Pulau Kalimantan ini juga mulai menjadi magnet bagi wisatawan mancanegara.

Tepat pukul 11.55, puluhan petasan merah yang diletakkan di tengah sebuah panggung berbentuk segi delapan, meletus. Dengan bantuan panas matahari yang dipantulkan oleh kaca pembesar dan kemudian menghasilkan api, sumbu petasan langsung terbakar dengan mudah. Tepuk tangan ratusan warga yang mengelilingi panggung langsung bergemuruh, ikut meramaikan bunyi petasan yang masih belum berhenti beradu. Letusan petasan sekaligus menjadi tanda bahwa kulminasi matahari telah terjadi di bumi Khatulistiwa, Pontianak, Kalimantan Barat.

Baca lanjutannya di : 

Screenshot 2015-01-20 14.26.00

Diterbitkan di Majalah Kabari Digital, Edisi Oktober-November 2014

* Salah satu tujuan dibuatnya blog ini adalah untuk mengenalkan berbagai hal menarik dari kota kelahiran saya. Mudah-mudahan, setelah ini lebih banyak perkenalan dengan Pontianak yang bisa saya ceritakan kepada lebih banyak orang. =) 

Pontianak Hari Ini

Menepati janji memang tidak mudah mengucapkannya.

Rencana saya, berita terbaru tentang Pontianak akan selalu saya sampaikan di sini. Sayangnya, karena satu dan lain hal, rencana hanya tinggal rencana. Maafkan.

Namun, saya sudah punya rencana untuk tulisan berikutnya (yang mudah-mudahan akan terwujud nyata), yakni tentang suguhan pemanja lidah, tentunya menu andalan kota Pontianak.

Siap pulang, 9 Desember 2014, pukul 16.42 WIB. 

Asap Lagi

Tanggal 4 Februari lalu, saya membuat tulisan ini. Isinya, nikmatnya buah yang terganti baunya asap.

Tiga hari terakhir, asap datang lagi.

Jika asap datang, air yang dialirkan PAM perlahan semakin asin.

Tak lama kemudian, tibalah musim kemarau.

Berarti, butuh waktu kurang lebih lima bulan bagi asap untuk kembali ke kota saya.

Jika demikian, berarti Desember asap lagi?

Jalan Hampir Mulus

Bulan ini jalanan di Kota Pontianak, kacau balau. 

Tiba-tiba ada pengerjaan jalan di keempat arah jalan. Sebut saja, Purnama. Akibatnya, warga pun bingung harus menempuh jalan yang mana. Pasalnya, semua rute ditutup karena ada pengerjaan jalan. Ada satu masa dimana jarak kantor-rumah yang harusnya bisa ditempuh dalam waktu 15 menit, memanjang hingga 45 menit., karena saya harus menempuh rute lain untuk menghindari pembuatan jalan. Molor 30 menit karena alasan macet adalah sebuah masalah untuk warga Pontianak. 

Dari bulan lalu, saya sudah ingin membuat tulisan ini. Hanya saja, karena kesibukan ini itu, keinginan itu tertunda. Tapi beruntung, saya tidak menuliskan ini bulan lalu. 

Bulan ini, manfaat macet 30 menit karena pengerjaan jalan sudah mulai terasa. Jalan yang tadinya ditutup 4 penjuru, sudah dibuka. TInggal 2 penjuru yang masih dikerjakan. 2 lainnya sudah mulus dan tidak berlubang. Hal yang sama terjadii di beberapa titik jalan. Hasil pengerjaan jalan mulai terasa. 

Semoga saja pengerjaan jalan ini cepat rampung. Pasti yang mengerjakan juga bingung karena cuaca Pontianak belakangan ini sungguh sulit ditebak. Musim hujan atau musim kemarau, rancu. Di jalan Kota Baru, setengah jalan digali, mungkin hampir 30 meter panjangnya. Karena hujan datang tanpa bisa diperkirakan, galian itu pun terlihat seperti kubangan. 

Mudah-mudahan para pekerja dan pejabat terkait bisa mempertimbangkan hal ini sehingga merampungkan pengerjaan dengan segera. Minimal, sesuai jadwal yang telah disusun. Jangan sampai jalanan masih begitu hingga musim hujan betulan tiba. Bisa-bisa, jalanan yang belum jadi itu rusak, dan gagal menahan banjir dan membuat macet semakin hebat.

Tapi ngomong-ngomong, musim hujan jatuh di bulan apa ya? 

Olahraga di Mana?

Kalau Jakarta punya Gelora Bung Karno yang megah, Pontianak punya…

Image

Lapangan – Saya tidak menemukan informasi jelas mengenai kapan area ini didirikan. Tapi, ayah saya yang kelahiran 1939, pernah bercerita bahwa Presiden Soekarno pernah memberikan pidato di hari pembukaan stadion ini. Jadi, sebut saja, stadion mungkin telah berusia 50 tahun, atau lebih. Gambar di wikipedia menunjukkan bahwa stadion pernah tampak seperti ini.

220px-Stadion_Sultan_Syarif_Abdurrahman

Sebelum berbicara lebih jauh, di kalangan sesama warga, Stadion Sultan Syarif Abdurrahman disebut GOR (gelanggang olahraga). Jadi, sepanjang tulisan ini saya akan menggunakan penyebutan serupa, GOR. Kedua, tulisan ini lahir karena saya pernah berteman akrab dengan Gelora Bung Karno. Jadi, mohon maklumi jika tulisan ini akan menyandingkan GOR dengan GBK.

Di gerombolan sesama kuli tinta, GBK adalah kawasan pamungkas untuk menggali berita. Banyak organisasi atau komite atau pengurus cabang olahraga yang berkantor di tempat ini. Jadi, cukup mampir ke GBK jika ingin mewawancarai atlet atau pelatih cabang A, B, atau Z, pasti satu dua buah berita akan berhasil dikantongi. Namun,situasi serupa agaknya sulit terjadi di sini.

Image

Image

KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) dan PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia) adalah dua kantor yang saya temukan palangnya di area GOR. Di samping keduanya, sepertinya hanya ada PBSI (Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia) dan atlet tinju yang berlatih di kawasan ini. Selebihnya, saya kurang tahu pasti.

Kedua, kondisi jalan. Kalau di GBK anak kecil bisa bermain sepatu roda dengan mulusnya, jangan harap aktivitas serupa bisa dilakukan di GOR. Jalan berlubang di sana sini. Jika musim hujan datang, maka pengguna jalan harus siap mengotori sepatunya dengan cipratan tanah dan air.

20140429_070317_resized_1

20140429_070058_resized_1

Selama menyisiri GBK beberapa bulan, saya tidak menemukan adanya papan iklan untuk tempat latihan mengemudi. Di GOR, ini jadi hal biasa. Tidak hanya iklan, kawasan ini pun menjadi kawasan ‘favorit’ untuk praktek latihan menyetir. Adegan warga yang berlari pagi sambil menghindari pengemudi amatir yang sedang latihan, atau pengemudi yang tampak deg-degan harus membanting setir karena ada warga yang ‘tiba-tiba’ sedang berdiri di depan moncong mobilnya, sudah jadi pemandangan umum.

20140429_070352_resized_1

Perbandingan selanjutnya mungkin menjadi kondisi semua tempat umum di Indonesia. Kurang terawat. Saya tidak mengatakan GBK punya kawasan yang sangat bersih dan terawat. Namun, jika harus menyandingkannya dengan GOR, tentu GBK masih jauh lebih baik.

20140429_070513_resized_1

20140429_070303_resized_1

Selain menjadi gelanggang olahraga, GOR juga menjadi gelanggang tanaman. Banyak penjual tanaman yang berjualan di sini. Untungnya, keberadaan meraka cukup menyegarkan mata. Di tengah pemandangan jalan aspal berlubang, dan dinding kotor bekas coretan, warga bisa menghibur mata dengan melihat tanaman hijau yang dijajakan di pinggir jalan.

20140429_070231_resized_1

Meskipun begitu…

Kendati jauh dari bayangan fasilitas umum yang menyenangkan, GOR kebanggaan kota Pontianak akan tetap menjadi tempat terbaik untuk berolahraga. Bapak, ibu, pelajar, anak kecil, akan menyisihkan waktu untuk lari pagi, atau senam pagi di tempat ini.

Kendati ada jalan berlubang, komunitas motor masih mencintai GOR untuk beratraksi balap setiap sore hari.

Kendati harus cekatan menghindari warga yang berlari pagi, mereka yang ingin belajar mengemudi pasti akan datang ke sini untuk meningkatkan keterampilan menyetir. Ancaman akan senggol sana sini akan menjadi ujian paling bagus, sebelum benar-benar menyetir di jalan raya.

Salam olahraga, dari mantan kuli tinta GBK. (Semoga suatu saat GOR bisa seindah GBK.)

20140429_071025_resized_1

Pontianak, 29 April 2014, pukul 15.04 WIB.

Musim Buah Berganti Asap

Pontianak kering. Sudah hampir 1 bulan, kota khatulistiwa ini tidak diguyur hujan. Akibatnya, asap meraja rela. 

Kantor – Jarak pandang saat berkendara di jalan pukul 23.00 WIB tidak lebih dari 100 meter. Pernafasan pun ikut terganggu. Bau asap sangat menyesakkan dada. Mereka yang sedang nongkrong di warung kopi pun rela mengenakan masker demi menghalau asap menyusup ke hidung. Sungguh bau. Mata pun perih akibat asap.

“Satu minggu nggak hujan saja, asapnya sudah mulai terasa,” kata seorang teman yang saya temui tadi malam. Keberadaan asap ini mulai saya sadari di hari pertama Tahun Baru Imlek, tepatnya tanggal 31 Januari lalu. Saat membuka pintu rumah sekitar pukul 6 pagi, asap tebal seolah berdiri di depan pintu. Tebal. Saking tebalnya asap, berdiam di dalam ruangan pun, mata akan berair karena asap.

Menjelang siang, atau sekitar pukul 10 pagi, asap mulai menghilang, atau mungkin tidak terlihat karena terang matahari. Baru muncul lagi saat matahari mulai tergantikan bulan, sekitar pukul 7 malam. Semakin malam, semakin tebal, seperti yang saya jumpai tadi malam. Benda apapun yang ditaruh di depan rumah, mulai dari sendal, sepatu, motor, mobil, kotor lebih cepat, terkena debu.

Masih membekas dengan jelas di benak saya, ‘musim asap’ terjadi setiap tahun, sejak saya kecil. Ada teman yang pernah bertanya, “Mengapa tiap tahun ada asap? Mengapa tidak pernah diatasi?”. Saya tidak tahu jawabannya. Ada yang bilang, asap yang muncul adalah ‘hadiah’ pembakaran hutan yang sengaja dilakukan oleh oknum, setiap musim kemarau, untuk membuka lahan baru. Musim kemarau jadi musim berbahagia bagi oknum, jadi malapetaka untuk warga. Lalu, pertanyaan “Mengapa tidak pernah diatasi?”, saya pun belum menemukan jawaban ini.

Tidak banyak yang bisa warga lakukan selama musim asap. Masker boleh jadi alternatif termudah. Untuk melindungi paru-paru dari asap, kurangi bepergian di malam hari. Kalaupun haru pergi, kenakan masker. Minimal, lebih sedikit asap yang terhirup. Sembari itu, bolehlah kita berdoa kepada penguasa hujan untuk menurunkan hujan barang satu dua hari agar warga bisa bernafas sedikit lega. Atau boleh juga berharap agar oknum kecapekan membakar hutan.

Pontianak, 4 Februari 2014, pukul 13.18 WIB. 

Pontianak ‘Imlek’ Festival

Bunyi petasan memekakkan telinga hampir setiap jam, tiap menit, tanpa henti. Semakin menggila mendekati pergantian hari. Bukan lagi bergantian tiap menit, tapi bersamaan setiap detik.

Rumah – Kalau Jakarta punya Jakarta Festival setiap malam tahun baru satu tahun terakhir, maka kalau boleh saya samakan sedikit, Pontianak juga punya Pontianak Festival. Kemeriahan ini berlangsung di malam tahun baru Imlek. Tepatnya, malam ini, 30 Januari 2014.

Pukul 6 sore, warga telah memadati Jalan Gajahmada dan Jalan Tanjungpura (jalan utama yang hampir selalu saya sebut dalam tulisan di halaman ini). Sebagian berkumpul bersama teman, sebagian lagi ‘menyiapkan’ tempat untuk gerombolan temannya yang akan bergabung di malam tahun baru.

Pukul 8 malam, kiri kanan jalan mulai dipadati kendaraan roda dua. Kendaraan roda empat yang ingin melalui jalan ini pun harus mulai bersusah payah untuk menyelip. Letupan petasan dan percikan kembang api bisa terlihat dimanapun kita berada. Salah satu sumbernya, dari kedua jalan tersebut.

Pukul 10 malam, kemacetan semakin menggila. Jalan Ahmad Yani, sekitar 1 km dari jalan Tanjung Pura, juga tampak padat. Tumpahan kendaraan di Jalan Gajahmada-Tanjungpura menyebar ke jalan di sekelilingnya. Atraksi kembang api semakin menjadi-jadi. Warga pun semakin memadati. Jalan kaki pun harus berhati-hati. Waspada menabrak kendaraan atau menyenggol orang.

Kebetulan, saya berdiri tepat di barisan tengah Jalan Gajahmada. Dari posisi ini, kembang api dan petasan seolah sahut menyahut dari kiri dan kanan jalan. Dari kejauhan, sumber kembang api sepertinya datang dari satu titik. Titik di depan tempat saya berdiri juga jadi lokasi ‘pembakaran’ kembang api. Empat pria 40-an yang membakar satu kardus panjang tampak bahagia saat menyulut api. Kelihatannya, mereka sedang mengaktualisasikan tulisan merah yang tertera di kardus kembang api yang mereka bakar, ‘Happiness’.

Puncak adu kembang api terjadi 5 menit sebelum dan sesudah pergantian hari, atau pukul 12. Stok kembang api andalan sepertinya sengaja disisakan untuk dimainkan pada 10 menit pamungkas tersebut. Ada yang melejit ke atas satu persatu seperti mikroorganisme yang Anda lihat dari mikroskop, ada yang melambung langsung ke atas dan berpendar menjadi ratusan percikan api, ada pula yang harus berputar putar dahulu sebelum lenyap ditelan langit. Anehnya, semakin kembang api ramai dimainkan, semakin banyak warga yang mendekati lokasi kembang api.

Yang paling tersangkut di pikiran saya adalah puluhan lampion yang dilepaskan ke langit. Lampion yang melayang itu mengingatkan saya pada festival lampion Waisak yang menjadi ikon perayaan hari besar umat Buddha di Borobudur. Ternyata, ‘tren’ lampion ini sudah berlangsung sejak 3 tahun lalu.

Entah apa makna pelepasan lampion oleh mereka yang membakar. Hanya saja, salah satu teman saya mencantumkan judul yang cukup menggelitik saat mengunggah fotonya bersama lampion. ‘Lampion Jomblo’. Mengusir jomblo bersama lampion? Mungkin, puluhan lampion lain juga diamini empunya sebagai ‘Lampion Miskin’, ‘Lampion Jelek’, atau ‘Lampion Gemuk’.

Melihat kemeriahan kota malam ini, Jakarta Festival menjadi satu-satunya hal di pikiran saya. Mungkin pemerintah daerah sudah mulai boleh memikirkan rencana untuk menahbiskan malam tahun baru Cina sebagai sebuah pagelaran ‘ serius’ sebagai program wisata Pontianak. Apalagi kata salah satu kerabat, hari raya ini merupakan yang paling ramai, bahkan dibandingkan dengan malam tahun baru. Asalkan dengan satu catatan, Pemda Pontianak tentu harus bisa memastikan sampah malam ini sudah tidak lagi mengotori jalanan sebelum pukul 6 pagi, seperti yang dilakukan Jakarta. Kalau Jakarta bisa, Pontianak pasti lebih bisa.

image

Selamat tahun baru Imlek untuk yang merayakan. Semoga tahun Kuda Tanah ini menjadi tahun yang berbahagia dan berejeki.

Pontianak, 31 Januari 2014, pukul 01.21 WIB